Assamalu’alaikum WrWb


PENDIDIKAN ISLAM MELALUI SENI
Februari 3, 2009, 2:30 pm
Filed under: Uncategorized

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; mso-style-link:” Char Char”; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} span.CharChar {mso-style-name:” Char Char”; mso-style-noshow:yes; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Footnote Text”; font-family:Calibri; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:612.1pt 792.1pt; margin:3.0cm 3.0cm 4.0cm 3.0cm; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:623535869; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:885534168 -1790256604 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} @list l1 {mso-list-id:911893483; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1988448292 -2091995176 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1349331382; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1369505234 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1865173088; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:359408212 69271573 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

Hakikat proses pendidikan adalah terjadinya perubahan pada diri manusia dalam proses perkembangan menuju kesempurnaan.[1] Dalam UU Sisdiknas 2003 pendidikan diartikan sebagai usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.[2] Sedangkan menurut UU dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan tahun 2006, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[3]

Beberapa pengertian yang berkembang tentang pengertian pendidikan diatas, memberikan pemahaman bahwa Pendidikan merupakan sebuah usaha yang terncana dan sistematis dalam rangka berupaya untuk membentuk kedewasaan pribadi yang mandiri, tangguh dan siap untuk menghadapi segala bentuk tantangan di masa yang akan datang. Pendidikan pada hakikatnya merupakan kebutuhan setiap individu dalam mengembangkan dan mengarahkan kehidupannya di masa yang akan datang.

Sebagaimana diketahui, pendidikan formal jenjang TK sampai SMA di Indonesia telah menjadi bagian dalam kehidupan anak bangsa. Bahkan saat ini pendidikan di jenjang Taman Bermain seakan-kan sudah menjadi keharusan bagi keluarga mampu dalam merencanakan keberhasilan pendidiakn bagi anak mereka.[4] Kondisi semacam ini telah menjadi sebuah keyakinan bagi setiap keluarga. Situasi semacam ini memberikan peluang sekaligus tantangan dalam dunia pendidkan.

Pendidik/guru memiliki peran besar dalam membentuk karakter serta menentukan dalam proses belajar. Sistem dan metode belajar yang dipakai oleh pendidik/guru sangant menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Selain itu seorang guru ditntut untuk benar-benar menguasai kondisi diri murid. Oleh karena itu seorang guru harus paham tentang psikologi pendidikan yang menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental, yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yamg mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.[5]

Kemampuan pendidik dalam memahami kondisi psikologis peserta didik akan memberikan kemampuan pendidik untuk menumbuhkan minat belajar yang tinggi karena mampu membuat kondisi belajar menjadi sesuatu yang asyik dan menyenangkan. Kondisi ini akan membawa keberhasilan pada anak dalam belajar.

Salah satu dari hal yang biasanya menyenangkan bagi adalah seni. Seni cenderung disukai oleh anak didik, karena seni memberikan sesuatu yang unik dalam belajar. Oleh karenanya pendidik harus mempunyai seni yang dengan seni tersebut ia mampu mentransfer penegtahuan serta menanamkan nilai pada diri anak didik. Makalah ini akan membahas tentang seni yang di pakai dalam melakukan proses pendidikan pada anak.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pendidikan

Pendidikan merupakan kebutuhan setiap individu manusia. Dengan pendidikan manusia mampu menghadapi segala tantangan yang ada untuk mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Sercara Etimologi pendidikan dalam perspektif Islam diidentikkan dengan attarbiyah.[6] Istilah itu berasal dari tiga akar kata yaitu; 1) raba yarbu yang berarti beratambah dan tmbuh; 2) rabiya yarba yang berarti menjadi besar; 3) rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara.[7]

At Tarbiyah secara etimologi juga identik dengan kata rabbani. Dalam Al Qur,an 3: 79 dan 146 disebutkan kata rabbaniyah (bentuk jama’ deari kata rabbani) yang memiliki makna orang-orang yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW memebrikan makna pendidikan (At Tarbiyah) dengan istilah rabbaniyin dan rabbani seperti berikut.[8]

“Jadikanlah kamu para pendidik yang penyantun, ahli fiqih dan berilmu pengetahuan. Dan dikatakan pendidik “rabbani” apabila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan, dari sekecil-kecilnya sampai pada yang lebih tinggi”

Dari pemaparan diaatas kata al-rabbani diidentikkan dengan at-tarbiyah, yang berarti proses transformasi ilmu pengetahuan yang dilakukan secara bertahap. Proses tersebut dilakukan dengan proses pengenalan, hafalan dan ingatan yang belum menjangkau proses pemahaaman dan penalaran.

Sebaliknya bila, pengertian at tarbiyah disepadankan dengan rabbaniyin dan rabbaniyun sebagaimana dalam Al-Qur’an 3:79 dan 146 tersebut, maka makna at tarbiyah adalah proses transformasi ilmu penegtahuan dan sikap pada anak didik, yang memepunyai semangat tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya sehingga terwujud ketaqwaan, budi pekerti dan pribadi ayng luhur.[9]

Sedangakan secara terminologi at tarbiyah menurut Al-Ghalayani adalah upaya penanaman etika yang mulia pada jiwa anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasehat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompetensi-kompetensi jiwa yang mantab yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik, cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya.[10] Kata At tarbiyah yang mempunyai arti pendidikan diartikan dengan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, penegndalian diri, kepribadian yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. [11]

Apabila kedua pemahaman pendidikan diatas disinergikan maka pendidikan merupakan upaya yang dialkukan secara bertahap dan sistematis dalam rangka menanamkan nilai-niali luhur dalam diri peserta didik sehingga peserta didik memiliki sifat-sifat terpuji, memiliki kepribadian, kecerdasan, ketrampilan dan mampu mengendalikan dirinya sehingga menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negaranya.

B. Seni

Seni merupakan kegiatan manusia yang amat menyenangkan karena didalamnya terdapat kegiatan bermain dan bereksplorasi serta bereksperimentasi dengan menggunakan unsur seni untuk mencipta suatu hal baru bagi diri mereka.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia seni adalah: 1) keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dsb); 2) karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti tari, lukisan, ukiran. [12] Sedangkan dalam kamus ilmiah populer seni diartikan sebagai segala yang berkaitan dengan karya cipta yang dihasilkan oleh unsur rasa.[13] Seni merupakan ungkapan halus dari perasaan yang mendalam yang dilahirkan dalam sebuah karya cipta. Karya ini bisa berupa sebuah bahasa, gerak teaterikal, olah suara dan lain sebagainya. Dari pengertian diatas tampak bahwa seni merupakan eksplorasi dan implementasi dari rasa yang halus dan mendalam dalam diri manusia.

C. Arti Penting Seni Dalam Dunia Pendidikan

Sebagaimana telah di bahas diatas bahwa pendidikan memiliki beberapa pengertian sebagai yang telah disampaikan para pakar serta ahli di bidangnya. Secara garis besar pendidikan merupakan upaya yang dilakukan dalam rangka menanamkan niali-nilai luhur pada diri peserta didik sehingga pada saatnya nanti, peserta didik siap dan mampu membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif dari luar sekaligus mampu dalam mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul di dalam kehidupannya.

Salah satu upaya yang perlu diperhatikan dan menjadi sorotan adalah upaya transformasi ilmu dan penanaman nilai-nilai luhur dalam diri peserta didik. Upaya bukanlah sebuah hal yang mudah. Karena membutuhkan perhatian serius agar bisa tercapai secara maksimal. Salah satu cara dalam usaha transformasi ilmu dan nilai-nilai luhur itu adalah melalui media seni.

Meurut Cut Kamaril Wardani, seni memiliki sifat multidimensional, multilingual dan multikultural yang memuliki potensi dalam pengembangan kecerdasan manusia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan. [14]

Menurut V, Lowenfield sebagaimana dikutip oleh Cut Kamaril wardani, melalui sifat multidimensional yang dimiliki seni, pada dasarnya kemampuan dasar manusia yang meliputi fisik, perceptual intelektual, emosional, sosial, kreatifitas dan astetik dapat dikembangkan.[15] Dengan sifat seni yang multidimensional seorang akan mampu mengembangkan danmenggali potebsi yang berbeda dalam dirinya serta mampu mengungkapkannya dalam bentuk kreatifitas yang mengandung nilai-nilai estetik.

Sedangkan sifat multilingual yang dimiliki seni memungkinkan manusia mampu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi melalui beragam bahasa disamping bahasa verbal. Bahasa yang dimaksud disini adalah bahas bahasa untuk berekspresi dan berkomunikasi secara rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya.[16]

Seni merupakan bahasa, rasa citra atau image bagi manusia. Oleh karena itu seni dinyatakan sebagai cermin kehidupan atau cermin realita.[17] Cerminan ini akan tampak pada setiap laku dan pola interaksi yang tampak dalam realita kehidupanseseorang.

Sifat Multicultural seni dapat dijadikan dasar pemersatu bangsa dengan mengembangkan kemampuan manusia untuk saling menghargai akan adanya perbedaan. Pemahaman terhadap keanekaragaman budaya yang dimiliki merupakan sebuah landasan yang kuat dalam mempersatukan perbedaan menjadi kesatuan yang utuh. Akan ntetapi ketidakpahaman terhadap keanekaragaman yang dimiliki merupakan akar perpecahan dan permusuhan.

Dengan demikian seni dengan berbagai sifat yangdimiliki memiliki arti dan peran penting dalam pendidikan. Seni merupakan media dalam menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung misi pendidikan. Seni juga merupakan sarana yang tepat dalam rangka transformasi ilmu pengetahuan pada diri seorang murid.

D. Transformasi dan Internalisasi Pendidikan Melalui Seni

Pada kenyataannya pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia dapat kita kelompokkan menjadi 2 macam, yaitu Pendidikan Umum dan Pendidikan Agama. Di kotomi dalam pendidikan ini muncul sebagai sebuah akibat dari adanya kronologis sejarah Indonesia yang kala itu di jajah oleh Belanda. Warisan itu masih tetap berlaku sampai masa sekarang. Dalam pembahasan ini transformasi dan internalisasi pendidikan melalui seni lebih difokuskan pada pendidikan Islam.

Pendidikan Islam berbeda dengan Pendidikan Agama Islam. Muhaimin menyebutkan bahwa Pendidikan Agam Islam adalah pendidikan yang materinya hanya sebatas mengajarkan ajaran agama Islam saja. Sedangkan Pendidikan Islam adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan yang Islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok muslim yang di edialkan.[18] Jadi pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan ajaran-ajaran agama an sich saja, namun juga mengjarkan berbagai keilmuan dimana reori-teorinya berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al Haists.

Islam sebagai agama syarat dengan nilai-nilai serta norma-norma yang mengikat didalammya, Islam memiliki aturan tersendiri bagi umatnya yang apabila umat mau dan patuh melaksanakannya, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam upaya inilah seni diperlukan dalam proses transformasi ilmu serta nilai-nilai luhur Pendidikan Islam.

a. Transformasi dan internalisasi pendidkan melalui seni musik.

Sejarah jaman dahulu Islam telah mengenal musik. Selain digunakan untuk hiburan musik dalam Islam juga digunakan sebagai upaya transformasi keilmuan dan nilai-nilai luhur dalam Islam. Musik adalah keteraturan bunyi kata pada sebuah kalimat.[19] Musik yang terkait yang terdapat pada uslub ‘ilmi disebut dengan nadzam.

Para ulama’ tempo dulu menggunakan nadzam sebagai bentuk upaya transformasi ilmu sekaligus sebagai penanaman ilmu. Sebagai contoh adalah kitab Al-fiyah karangan Ibnu Malik yang memuat seribu bait nadzam. Diantara nadzam itu adalah:

Dalam bait diatas Imam Ibnu Malik memeberikan tentang kalam dalam pandangan nahwu. Beliau menggunakan media musik ini dalam rangka proses transformasi sekaligus internalisasi keilmuan didalamnya.

b. Transformasi dan Intenalisasi Pendidikan melalui seni bermain.

Sejauh kita memasuki dunia siswa, sejauh pula itu pula pengaruh yang kita miliki didalam kehidupan mereka. [20] Demikian kiranya gambaran pengaruh seorang guru pada siswa didiknya. Seorang pendidik dituntut untuk benar-benar men gtahui dan mampu menyelami peserta didiknya.

Permainan merupakan sebuah seni bagi nak-anak. Dunia anak cenderung untuk mengisi waktunya dengan bermain. Sebagai seorang pendidik, maka seorang guru harus tanggap akan kondisi ini. Seorang guru harus mampu mengubah permainan menjadi sebuah seni dalam transformasi dan internalisasi pendidikan pada anak. Kemampuan ini pula yang dimiliki oleh seorang wali kesohor yang menyebarkan Islam di tanah Jawa yakni Sunan Bonang.

Sunan Bonang adalah gambaran seorang pendidik yang mengerti betul pada siswa didiknya. Demi untuk menanamkan nilai-nilai luhur Islam ia ciptakan permainan yang mengandung filosofi tinggi berupa ketahui dan tinggi pada Sang Khaliq. “Jumpritan’ dalam istilah Jawa merupakan salah satu gambaran permainan ynag di ramu secara cerdas oleh wali ini.

Selain itu diantara diantara wali lainnya juga banyak yang menggunakan media seni dalam proses dakwahnya. Banyak sekali gending-gending Jawa dan lagu-lagu dolanan yang dikarang oleh para wali demi untuk menanamkan nilai-nilai luhur Islam yang terkandung dalam kitab suci AlQur-an . Hal ini menunjukkan akan kemampuan mereka yang tinggi dalam memahami peserta didik.

C. Transformasi dan Internalisasi pendidikan melalui Seni Suara

Transformasi dan Internalisasi pendidikan saat ini telah berkembang secara pesat. Perkembangan ini seiring dengan semakin meningkatnya kemampuan seorang dalam bidang intelektualnya. Wawasan yang luas dan didukung dengan keahlian mengolah suara telah menjadi sebuah media dalam proses transformasi serta intenalisasi nilai-nilai luhur pendidikan.

Diantara para tokoh seni tarik suara yang sering melakukan transformasi pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai luhur Islam adalah Rhoma Irama, Ida Laila, K.H. Ma’ruf Islammudin, Ebiet, dan sederetan tokoh lainnya yang tidak mungkin penulis sajikan satu persatu. Mereka adalah para tokoh yang menyebarkan dakwah Islam serta menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Al-Qur’an melalui seni suara. Ini adalah suatu kemampuan yang luar biasa yang perlu untuk dipertimbangkan dan ditindaklanjuti.

D.Transformasi dan Internalisasi Pendidikan melalui seni wayang kulit.

Wayang kulit merupakan kesenian yang telah melegenda bagi kalangan masyrakat Jawa. Kesenian wayang kulit pada awalnya merupakan kesenian wayang golek dan wayang beber yang karena dinilai bertentangan dengan Islam dimodifikasi menjadi wayang kulit.

Pencipta kesenian wayang kulit ini adalah seorang wali besar yangtermasuk dalam jajaran wali songo yaitu Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah seorang wali cerdik yang melakukan penyiaran Islam terhadap masyarakat Jawa dengan pendekatan budaya. Beliau menyadari betul sebagai karakteristik yang dimiliki oleh orang Jawa, sehingga dalam melakukan dakwah dan penananam nilai-niali keislaman beliau ciptakan sebuah kesenian yang sangat dikuasai masyarakat pada waktu itu.

Kesenian wayang kulit merupakan bentuk kesenian yang syarat dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Nama-nama tokoh yang ada didalamnya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga orang akan terkesima ketika melihat nilai-nilai serta pesan yang terkandung didalamnya. Sebut saja Jimat Kalimasada yang menggambarkan dua kalimat syahadat, Werkudara yang menggambarkan orang yang sedang shalat dan sebagainya. Ini merupakan sebuah terobosan luar biasa yang telah di upayakan oleh Sunan Kalijaga dalam proses transformasi dan internalisasi pendidika di Indonesia khususnya masyrakat Jawa.


BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian makalah diatas dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya:

1. Pendidkan adalah upaya yang dialkukan secara sadar, dan sistematis dalam rangka penanaman niali-niali luhur dalam diri peserta didik serta menumbuh kembangkan segala potensi yang dimiliki agar menjadi manusia yang bijak, memliki kepribadian, kecerdasan, kreatifitas dan keahlian yang diperlukan oleh masyrakat, bangsa dan negara.

2. Seni adalah ungkapan halus dari perasaan yang mendalam yang dilahirkan dalam sebuah karya cipta.

3. Seni memiliki arti penting bagi pendidikan sebagai media trnsformasi sekaligus internalisasi nilai-nilai pendidikan pada diri peserta didik. Seni dengan segala sifat yang dimilikinya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia yang meliputi fisik, penceptual intelektual, emosional, sosial, kreatifitas dan astetik.

4. Transformasi dan internalisasi pendidikan melalui seni dapat dilakukan, misalnya dengan melalui media seni musik, seni bermain, seni suara, seni wayang kulit dan sebagainya. Berbagai macam seni akan membuat sebuah proses transformasi dan iternalisasi nilai lebih menyentuh dan bisa di tangkap dan di terima dengan baik dan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

- Ibrahim, Teknologi Pendidkan , (Malang; FIP IKIP Malang, 1985), 2

- UU No 20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Arms Duta Jaya,

2003)

- UU dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan , (Jakarta: Depag RI, 2006), 5

- Cat Kamaril Wardani, Pendidikan melalui Seni dalam Pendekatan Terpadu, dalam

Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidkan,

(Jakarta, Kencana, 2004), 379

- Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung; Rosdakarya, 1996), 9

- As’aril Muhajir, Diktat Ilmu Jiwa Belajar, (Tulungagung, STAIN, 2001), 9

- Abd. Al Rahman al-Nahlawi; Prinsip-prinsip dan metode Pendidikan Islam, Herry

Noer Ali (Bandung, CV. Diponegoro,1989), 30-31

- Muhammad Muhsin Klāń ,Shahih Bukhari, vol 1 (Islamic Universitu, t.p.t.t), 59

- Mustafa-al Ghalayani, Izah-al. Nashi’in (Beirut: Al-Maktabah al-asriyah,tt,), 185

- Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta, balai Pustaka

2005) 1037

- Pius A Partanto dan Dahlan Al-Borry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya

: Aslaka,tt,), 70

- Cut Kamaril Wardani, Asah Kepekaan Dengan Seni Terpadu, dalam Republika

, Minggu 11 Juni 2006

- Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, Raja Grafindo, 2005), 6

- ‘ilmu Al Badii’, (Ma’had ‘Ashri Gontor,tt.), 1

- Bebby Der Porter dkk, Quantum Theaching (Bandung, kaifa, 2003), 24


[1] Ibrahim, Teknologi Pendidkan , (Malang; FIP IKIP Malang, 1985), 2

[2] UU No 20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Arms Duta Jaya, 2003)

[3] UU dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan , (Jakarta: Depag RI, 2006), 5

[4] Cat Kamaril Wardani, Pendidikan melalui Seni dalam Pendekatan Terpadu, dalam Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidkan, (Jakarta, Kencana, 2004), 379

[5] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung; Rosdakarya, 1996), 9

[6] As’aril Muhajir, Diktat Ilmu Jiwa Belajar, (Tulungagung, STAIN, 2001), 9

[7] Abd. Al Rahman al-Nahlawi; slamPrinsip-prinsip dan metode Pendidikan I, Herry Noer Ali (Bandung, CV. Diponegoro,1989), 30-31

[8] Muhammad Muhsin Klāń , shahih Bukhari, vol 1 (Islamic Universitu, t.p.t.t), 59

[9] ——–, Ilmu Jiwa Belajar (bahasa), 11

[10] Mustafa-al Ghalayani, Izah-al. Nashi’in (Beirut: Al-Maktabah al-asriyah,tt,), 185

[11] ——–, UU dan Peraturan Pemerintah RI, 5

[12] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta, balai Pustaka 2005) 1037

[13] Pius A Partanto dan Dahlan Al-Borry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya : Aslaka,tt,), 70

[14] Cut Kamaril Wardani, asah Kepekaan dengan seni terpadu, dalam Republika, Minggu 11 Juni 2006

[15] Ibid

[16] ibid

[17] ibid

[18] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, Raja Grafindo, 2005), 6

[19]ilmu Al Badii’, (Ma’had ‘Ashri Gontor,tt.), 1

[20] Bebby Der Porter dkk, Quantum Teaching, (Bandung, kaifa, 2003), 24



PEMIKIRAN FILOSOFIS MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
Februari 3, 2009, 2:14 pm
Filed under: Uncategorized


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/01/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:812331107; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1913600390 67698709 -1475437936 -1470736910 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1178271774; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1044500830 -1093607546 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1391224585; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1939648394 522459270 -152662040 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-tab-stop:73.5pt; mso-level-number-position:left; margin-left:73.5pt; text-indent:-19.5pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara, manejemen merupakan upaya yang sanagt penting untuk mencapai tujuan bersana. Pendidikan yang slah satu faktor penting dalam kehidupan manusia sudah semestinya mendapat perhatian penting dalam hal manejemennya. Pendidikan yang baik merupakan tolok ukur bagi sebuah bangsa tau negara dalam hal kemajuan yang di capai tidak terkecuali dalam Islam.[1]

Pendidikan dalam Islam sudah semestinya dikelola dan di manage dengan sebaik-baiknya. Manajemen pendidikan Islam merupakan salah satu cara untuk meningktkan kualitas kehidupan umat dari keterbelakangan baik secra moral., materi, dan spiritual.[2]Dalam Islam, manajemen adalah hal yang sanagt penting. Hal ini tampak dalam ungkapan bijak’

sesuatu yang haq yang tidak di organisir terkadang dikalahkan oleh sesuatu yang batil yang terorganisir”

Makalah ini akn membahas tentang pemikiran filosofis tentang manejemen dalam pendidikan Islam . makalah ini di tulis sebagai pengantar diskusi dalam perkuliahan Pasca Sarjana STAIN Tulungagung.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertin Manajemen dalam Pendidikan Islam

Kata manajemen berasal dari bahasa Inggris dari kata kerja “to manage” yang sinonimnya antara lain; “to hand’ berarti mengurus, “to control” berarti memeriksa, “to guide” berarti memimpin. Dalam kamus istilah populer, kata manajemen mempunyai arti pengelolaan usaha, kepengurusan, ketatalaksanaan, penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran yang di inginkan direksi.[3]

Sedangkan manajemen pendidikan[4] adalah aktifitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah di tentukan. Manajemen pendidikan merupakan suatu sisem pengelolaan dan penataan sumber daya pendidikan, seperti tenaga kependidikan,peserta didik, masyaakat, kurikulum, dana, sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana, dan lingkungan. Pendapat yang lain manajemen pendidikan di rumuskan sebagai mobilisasi segala sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[5]

Sedangkan manejemen pendidikan Islam menurut Sulistyorini adalah suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Ialam yang melibatkan sumberdaya manusia muslim dan manusia dalam menggerakkannya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.[6] Senada sebagaiman pengertian di atas, Muhaimin mengatakan bahwa manajemen pendidikan Islam adalah bagaimana mengguinakan dan mengelola sumberdaya pendidikan Islam secara efektif untuk mencapai tujuan pengembangan, kemajuan, dan kualitas proses dan hasil pendidika Islam itu sendiri.[7]

  1. Dasar dan Tujuan Manajemen Dalam Pendidikan Islam

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang bisa menjadi dasar adanya manejemen dalam Islam. Ayat-ayat tersebut bisa di pahami setelah di adakan penelaahan secara mendalam. Diantara ayat-ayat Al Qur’an yang dapat dijadikan dasar manejemen pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

1. Surat At- taubah ayat 122:

Artinya:

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (kemedan perang). Mengapa sebagaian di setiap golonagn di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka untuk memeberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembalai, agar mereka dapat menjaga dirinya.[8]

2. An- Nisa ayat 9:

Artinya: ” Dan hendaklah takut kepada Allah orang – orang yang apabila mereka meninggalkan dibelakang keturunan yang lemah yang mereka hawatir akan nasib mereka’ dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang benar”

Selain itu di dalam hadits dan atsar sahabat juga terdapat pelajaran-pelajaran yang mengandung nilai-nilai manajemen. Di antara hadits dan atsar tersebut adalah

Ketika suatu urusan di serahkan kepada orang yang bukan ahlinya, mak tunggulahb kehancurannya’


Ajarilah anak-anakmu, maka sesungguhnya mereka itu di ciptakan untuk suatu jaman yang berbeda dengan jamanmu”.

Ayat-ayat Al Qur’an, hadits serta atsar di atas apabila di telaah secara teliti dan mendalam menunjukkan adanya nilai-nilai manejemen dalam Islam.manajemen dalam Islam sangat di erlukan apalagi dalam aspek pendidikanya.

Pendidikan Islam yang di manage secara baik dan teratur sudah barang tentu akan menghasilakan hasil yang memuaskan. Sebaliknya pendidikan yang tidak di manage secara baik sudah barang tentu akan menghasilkan barabg yang tidak menentu pula.

Adapun tujuan manajemen dalam pendidikan Islam tentu tidak lepas dari tujuan pendidikan Islam. Menurut H.Athiyah Al-Abrasyi sebagaimana yang telah di kutip oleh Oemar Muhammad At-Thoumy al-Syabani mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah:[9]

1. Pembentukan akhlak yang mulia.

2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.

3. menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran.

4. menyiapkan pelajar yang profesioanal disamping memelihara kerohanian dan keagamaan.

5. mempersiapkan anak didik untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan sesuai dengnan tujuan pendidikan Islam di atas.

Sesuai dengan tujuan pendidikan Islam di atas dengan berpijak pada pengertian manajemen maka tujuan manajemen dalam pendidikan Islam adalah meningkatkan produktifits pencapaian hasil yang maksimal dalam pendidikan Islam dalam berbagai aspek, jasmai, rohani, dunia, dan akhirat.

C. Unsur-unsur Pendukung Manejemen dalam Pendidikan Islam

Unsur-unsur manajemen pendidikan Islam merupakan fungsi manajemen. Dimana ketika unsur-unsur yang ada tidak dijalankan maka optimalisasi hasil tidak akan tercapai. Adapun unsur pendukung manajemn pendidikan Islam yaitu:

    1. Planing ( Perencanaan)

Palaning adalah suatu proses pemikiran, baik secara garis besar maupun secara mendetail. Proses berpikir dilakukan untuk menghindari kerugian atau kegagalan. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an agar orang mau berpkir diantaranya adalah surat Ar-Ro’du ayat 3, Az-zumar ayat 42, Al Jatsiyah ayat 13, Al Baqoroh ayat 219, 242 dll.[10]

    1. Organizing (Pengorganisasian)

Adalah penyusunan dan pengaturan bagian-bagian hingga menjadi suatu kesatuan. Organizing diperlukanb dalam pendidikan Islam dalam rangka menyatukan visi misi sehingga tujuan bisa tercapai. Berkaitan dengan hal ini ada ungkapan ahli bijak yaitu;

Kebenaran yang tidak di organisir pasti akan dikalahkan oleh sesuatu yang bathil yang di organisir “

    1. Actuating (Tindakan)

Actuating pada hakikatnya adalah menggerakkan orang-orang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Actuating merupakan aplikasi atau pelaksanaan dari planing yang telah di susun dan direncanakan.

    1. Controlling (Pengawasan)

Pengawasan merupakan penentu terhadap apa yang harus dilaksanakan sekaligus menilai dan memeperbaiki sehingga pelaksanaan program sesuai dengan apa yang direncanakan oleh pendidikan Islam.

  1. Prinsip-prinsip Manejemen Pendidikan Islam

Azhar Arsyad mengatakan bahwa prinsip-prinsi manajemen pendidikan Islam adalah;

a. Pembagian kerja

b. Disiplin

c. Kesatuan perintah (Unity of comment)

d. Kesatuan arah

e. Kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi

f. Rantai berjenjang dan rentang kendali

Sedangkan Effendi Mochtar menyatakan bahwa prinsip-prinsip atau kaidah manajemen yang ada relevansinya dengan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits antara lain sebagai berikut:

a. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar (Q.S Ali Imron; 104,110)

b. Prinsip menegakkan kebenaran (QS.Al Isro’ 81, Ali Imron :60)

c. Prinsip menegakkan keadilan (QS. An Nisa’ 6, Al-a’raf: 29)

d. Amanah (Q.S Annisa ; 58, Al-baqarah ; 283, Hadits riwayat Muslim)

e. Prinsip mawaddah (QS.Ali Imran 112, Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)Prinsip keseimbangan antara dunia dan akhirat (tawazun) (Q.S. Al-Qashas, 77, Hadits riwayat Ibnu Asakir)

f. Prinsip Akhlaqul karimah (QS. Al baqarah, 148, Al-Qashas: 77, Al- maidah ;23)[11]

BAB III

KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah diatas dapat di ambil kesimpulan:

1. Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumberdaya manusia muslim dan non manusia demi menggerakkannya untuk mencapai pendidian Islam secara efektif dan efisien.

2. Dasar manajemen dalam pendidikan Islam terhadap alam suarat at-Taubah; 122, An-nisa’; 9 serta hadits-hadits dan atsar yang diriwayatkan oleh para sahabat.

3. Tujuan manajemen dalam pendidikan Islam adalah untui meningkatkan produktivitas pencapaian hasil maksimal dalam pendidikan dalam berbagai aspek , jasmani, rohani, dunia, akhirat.

4. Unsur-unsur pendukung manajemen dalam pendidikan Islam meliputi planning, organisizing, actuating, dan controlling.

5. Prinsip-prinsip manajemen dalam pendidikan Islam meliputi amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan kebenaran , menegakkan keadilan, amanah, maeaddah, keseimbangan antara dunia dan akhirat (tawazun) dan akhlaqul karimah.

DAFTAR RUJUKAN

Astutik ,Puji, Makalah Pemikiran Filosofis Tentang manajemen Pendidikan Islam, 2007.

A. Partanto ,Pius, M. Dahlan Al Barry, Kamus ilmiah Populer, (Surabaya; Arkola,1994).

H.D Sudjana, Manajemen Program Pendidikan, (Bandung: Falah Production, 2004),II

Mulyasa, E Menjadi Kepala Sekolah Profesioanal, (Bandung: Rosdakarya,2006)

Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung,: Nuansa Baru, 2003)

Moehtar, Effendi, Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam (Jakarta: Bhatara, 1996)

Oemar Muhammad at-Toumy al-Syabany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang,1979)

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam (diktat), STAIN Tulungagung, 2005

Umam,Cholil, Kamus Al-Qur’an Lengkap , (Bandung: Citra Umbara, 2004


[1] Sudjana,H.D Manajemen Program Pendidikan, (Bandung: Falah Production, 2004),II

[2] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam (diktat), STAIN Tulungagung, 2005, 4

[3] Pius A Partanto, M. Dahlan Al Barry, Kamus ilmiah Populer, (Surabaya; Arkola,1994), 434

[4] E.Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesioanal, (Bandung: Rosdakarya,2006)

[5] Puji Astutik, Makalah Pemikiran Filosofis Tentang manajemen Pendidikan Islam, 2007, 2

[6] ……..Manajemen Pendidikan Islam (Diktat),20

[7] Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung,: Nuansa Baru, 2003) 312-313

[8] Al-Quran dan terjemahnya, (Surabaya: Mahkota) hal 101

[9] Oemar Muhammad at-Toumy al-Syabany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang,1979),399

[10] Cholil Umam, Kamus Al-Qur’an Lengkap , (Bandung: Citra Umbara, 2004), 253

[11] Effendi, Moehtar, Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam (Jakarta: Bhatara, 1996) hal 39-40



Januari 20, 2009, 3:49 pm
Filed under: Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

Kepemimpinan adalah faktor yang sangat urgen dalam sebuah lembaga kepemimpinan atau yang lebih sering di sebut leadership adalah power of leading, artinya kekuatan untuk memimpin.[1] Kepemimpinan merupakan kemampuan yang memiliki nilai seni dalam menggerakkan, mengelola, mengarahkan dan mempengaruhi kinerja sebuah kelompok dalam upaya untuk mencapai tujuan yang di harapkan.

Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. Dengnan amat berta seolah-olah kepemimpinan di paksa untuk menghadapi berbagai macam faktor seperti, struktur atau tatanan,koalisi, kekuasaan, dan kondisi lingkungan organisasi. Sebalikya, kepemimpinan rasanya dapat dengna mudah menjadi satu alat penyelesaian yang luar biasa terhadap persoalan apa saja yang sedang menimpa suatu organisasi.[2]

Dengan demikian kepemimpinan memiliki arti penting dalam setiap lembaga tidak terkecuali dalam pendidikan Islam di madrasah. Madrasah yang merupakan wadah bagi umat Islam untuk mendidik putra-putrinya sangat membutuhkan kepemimpinan yang solid dalam rangka meningkatkan kualitas outputnya. Untuk tujuan ini mka madrasah harus berbenah dalam segala aspek manajerialnya dalam rangka meningkatkan mutu kualitas pendidikannya.

Salah satu aspek penting yang tak boleh terlupakan dalam kepemimpinan adalah kerjasama tim. Kerjasama tim mutlak diperlukan dalam sebuah kepemimpinan, tanmpa kerjasama tim yang baik, mustahil sebuah kepemimpinan bisa meraih keberhasilan dalam mengemban misinya. Karena pentingnya kerjasama tim dalam sebuah kepemimpinan, maka dalam Islam terdapat ungkapan bijak”

لاجماعة الا بماء موم ولا اما مة ا لا بطاعة

Tidak ada jama’ah kecuali dengn adanya makmum dan tidak ada imam kecuali dengan adanya ketaatan”

Makalah ini akan membahas tentang kepemimpinan dan kerjasama tim dalam meningkatkan mutu penddidkan di madrasah. Makalah ini ditulis sebagi bahan diskusi dalam perkuliahan Program Pasca Sarjana STAIN Tulungagung.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan

Kepemimpinan atau yang sering di sebut dengan leadership adalah power of leading, artinya kekuatan untuk memimpin.[3] Beberapa ahli dan para pakar memberikan definisi kepemimpinan sebagi berikut:

a. Ngalim Purwanto mengemukakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan untukdijadikan sebagia suatu sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnyaagar mereka mau dan daat melaksanakan tugas-tugas yang di bebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, kegembiraan batin, serta merasa tidak dipaksa.[4]

b. George R.Terry (1977-414) sebagaimana yang telah dikutip oleh Syaiful Sagala menyatakan kepemimpinan adalah hubungna antara seorang pemimpin dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai yang di inginkan pemimpin.[5]

c. Soepardi sebagaimana dikutip E.Mulyasa menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk menngerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah,melarang, dan bahakan menghukum (kalau perlu) serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien.[6]

Beberapa definisi kepemimpinan di atas, memberikan gambaran umum tentang sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan memiliki sebuah indikasi kemampuan seseorang dalam menggerakkan, mengarahkan, menjalin hubungan dalam rangka memepengaruhi dan menggerakkan individu untuk bekerja sebagai bentuk upaya untuk mencapai tujuan.

a. Kepemimpinan Pendidikan Mutu

New World Dictionary mendefinisikan emimpin sebagi “Seseorang atau sesuatu yang memimpin; kepala yang mengarahkan, memerintahkan, atau membimbing yang di mulai dari sebuah kelompok atau kegiatan”.[7] Definisi tersebut tidak dapat dijalankan dalam lingkunngan berkesadaran mutu sekarang ini. Seoarang pemimpin mutu didefinisikan sebagai orang yang mengukur keberhasilannya denga individu-individu lain di dalam organisasi.[8]Artinya di dalam kepemimpinan mutu, keberhasilan tidak hanya di dasarkan pada keberhasilan atau kemempuan seorang pemimpin saja dalam melakukan sebuah tindakan. Akan tetapi keberhasilan itu didasarkan atas keberhasilan setiap anggota tim dalam organisasi tersebut dalam melaksanakan tugas dan peranannya masig-masing.

Definisi pemimpin dalam mutu sebagaimana di atas, telah meberikan perubahan terhadap asumsi pemimpin di era sekarang kalau pemimpin di masa dulu dianggap sebagai orang yang memiliki peran paling hebat diantara lainnyadalam menentukan keberhasilan organisasi. Sebaliknya dalam kepemimpinan muutu, keberhasilan itu merupakan tanggung jawab bersama. Secara otomatis, maka piramida kepemimpinan mutu menggambarkan perubahan peran para profesional pendidikan sekarang ini. Apabila digambarkan , maka kepemimpinan mutu di madrasah adalah sebagai berikut:

Masyarakat

Siswa Orang Tua

Guru Staf

Administrator Pengawas Dewan Madrasah

. Arti Penting Pemimpin Dalam Mengembangkan budaya Mutu

Meskipun dalam pendidikan mutu tingkat keberhasilan di ukur pada keberhasilan masing-masing individu dalam melaksanakan tugasnya, akan tetapi seorang pemimpin dalam pendidikan mutu tetap di butuhkan.

Pemimpin dalam institusi madrasah yang menerapkan pendidikan mutu terpadu memiliki fungsi utama yaitu sebagai berikut;

· Memiliki visi mutu teradu sebagi institusi;

· Memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu;

· Mengkomunikasikan pesan mutu;

· Memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi;

· Mengarahkan perkembanngan karyawan;

· Berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lain, saat permasalahan muncul tanpa bukti-bukti yang nyata. Kebanyakan persoalan yang muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan staff;

· Memimpin inovasi dalam institusi;

· Mampu memastikan bahwa sruktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggung jawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat;

· Memiliki komitmen untuk menghilngkan rintangan, baik yang bersifat organisasional maupun kultural;

· Membangun tim yang efektif

· Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan.[9]

B. Kerja Tim Bagi Mutu Pendidikan Di Madrasah

Dalam setiap institusi/ lembaga/madrasah dsb, setiap pekerjaan dibagi berdasarkan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu.Dalam sekolah/madrasah spesifikasi kerja disusun oleh kepala sekolah/ madrasah atau staff senior lainnya secara bersama-sama. Spesifikasi kerja tersebut hanyalah merupakan starting poin negoisasi peran, yang merupakan suatu proses berkelanjutan yang melibatkan seluruh angota pemegang jabatan.[10] Oleh karena pembagian kerja pada masing-masing individu atupun kelompok sesuai dengan spesifikasi bidang yang dimilikiya, maka kerja tim merupakan hal yang sangat diharapkan dan memiliki peran yang sangat penting.

a. Pentingnya Kerja Tim dalam Pendidikan madrasah

Sebuah organisasi yang terlibat dalam TQM (Total Quality Management) akan memperoleh manfaat dengan memiliki tim-tim yang efektif di semua tingkatan. Dalam beberapa sektor pendidikan, tim telah dikembangkan sebagai unit dasar dari penyampaian kurikulum dan dengan demikian pendidikan memiliki sebuah awal yang baik mengingat kerja tim adalah sebuah fakta yang telah terbukti berhasil. Langkah awal tersebut memungkinkan institusi pendidikan memiliki pondasi yang kuat untuk membangun TQM.[11]

Madrasah yang salah sattu institusi pendidikan Islam harus mampu mengoptimalkan kinerja tim yang dimiliki. Kerja tim yang solid akan memberikan kemudahan pada lembaga dalam mengatur roda pendidikan yang dijlankan. Kesadaran tim yang dimiliki merupakan kunci utama dalam mencapai hasil yang di cita-citakan.

b. Peran Tim Proyek

Dalam penegakan TQM, tim tidak hanya berfungsi menjalankan tugas tertentu. Disamping menjalankan fungsi tim yang memnag sangat penting tersebut, tim juga bisa digunakan untuk mencapai proyek yanh spesifik. Proyek ad-hoc dan berjangka pendek serta tim peningkatan merupakan elemen kunci dalam meningkatkan mutu. Dengna melibatkan jumlah maksimum orang dalam proses mutu terpadu, sebuah tim memiliki sebuah nilai tambah.[12]

Tim harus mampu menjadi motivator dalam peningkatan mutu. Dalam lembaga madrasah tim harus mampu menjadi motor penggerak dari kinerja madrasah. Madrasah yang menerapkan TQM harus memahami betul bahwa bahwa TQM adalah sebuah kumpulan tim yang saling melengkapi.[13]

c. Tim Sebagai Dasar Bangunan Mutu

Tim yang harmonis dibutuhkan dalam upaya peningkatan mutu. Peningkatan mutu adalah sebuah kerja keras, dan mendapatkan dukunagn semua pihak adalah pendekatan terbaik dalam menangani hal tersebut.[14]

Dalam madrasah yang menerapkan TQM, madrasah harus memahami akar fungsi tim yang di bentuk. Sebagai contoh adalah tim yang dibentuk untuk penyususnan mata pelajaran. Tim ini dibentuk agar memiliki fungsi penting yang mencangkup;[15]

  • Bertanggung jawab pada mutu pembelajaran

· Bertanggung jawab pada pemanfatan waktu para guru, material, serta ruang yang dimanfaatkan.

· Menjadi sarana untuk mengawasi , megevaluasi, dan meningkatkan mutu.

· Bertindak sebagi penyalur informasi kepada pihak manajemen tentang perubahan-perubahan yang diperlukan dalam proses peningkatan mutu.

d. Tahap-tahap Formasi Tim

Kerja tim harus didasrkan rasa saling percaya dan hubungan yang solid. Ketika tim memiliki identitas dan tujuan, maka ia dapat secar efektif menjalankan fungsinya.[16] Keefektifan kerja tim akan mendorong dan membawa sebuah institusi menuju tujuann yang di cita-citakan.

Pada kenyataan setiap tim membutuhkan waktu dan tahap dalam perkembangannya. Menurut B.W Tukcman sebagaimana di kutip oleh Edward Salis, setidaknya ada empat tahap tantangan, penataan noram, dan kerja keras.

e. Tim yang Efektif

Ukuran efektifitas tim sangat menentukan operasinya dilapangan. Agar tim bisa berjalansecara efektif, ada beebrapa hal yang perlu di ingat antara lain;

· Tim membutuhkan tujuan yang jelaqs;

· Sebuah tim membutuhkan sumberdaya-sumberdaya dasar untuk beroperasi.

· Sebuah tim perlu mengetahui tanggung jawab dan batas-batas otoritasnya.

· Sebuah tim memmerlukan rencana kerja.

· Sebuah tim memerlukanseperangkat alat untuk bekerja.

· Tim perlu menggunaka alat-alat yang tepat untuk mengatasi masalah dan menemukan solusi.

· Tim perlu mengembangkan sikap tim yang baik dan bermanfaat.

f. Lingkaran Mutu

Bagi seabgaian orang, mutu sinonim dengan lingkatan mutu. Lingkaran mutu merupakan cara penting dari metode kontrol mutu terpadu ( Total Quality Control) Jepang. Filosofi TQC Jepang sebenarnya merupakan perpaduan antara ide-ide kontrol proses statistik Deming dengan lingkaran mutu. Adapaun ilustrasi dari lingkaran mutu adalah

Kepemimpinan

Strategi

Sistem

Alat – alat Mutu

Evaluasi

Motivasi Staff

Tim – tim Kerja

Pengalaman Pelajar

Ligkaran mutu di

pertimbangkan sebagai bagian penting dari proses mutu di Jepang. Akan tetapi tidak di Barat. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan kesan sukarela dan lembur yang tidak sesuai dengan budaya industri di Barat. Di Barat, tim dan kerja tim lebih ditekankan daripada lingkaran mutu.

Menurut Isikhawa, lingkaran mutu memiliki tujuan sebagai berikut;

1. memberi kontribusi pada peningkatan dan pengenbangan perusahaan.

2. menghormati kemanusiaan dan membangun sebuah kebahagiaan yang layak serta wilayah kerja yang bermanfaa

3. melatih kemampuan manusia secar maksimal, dan mengurangi kemungkinan yang tidak terbatas.

BAB III

PENUTUP

Dari pemaparan makalah diatas, dapat kita ambil garis basar diantaranya;

  1. Pemimimpin dalam mutu adalah orang yang mengukr keberhasilan individu-individu dalam organisasinya.
  2. Meskipun dalam mutu keberhasilannya di ukur dengan keberhasilan individu-idividu dalam organisasi, akan tetapi seorang pemimpin tetap di butuhkan dalam mutu.
  3. Dalam mutu kerja tim merupakan faktor yang sangat penting, untuk mencapai tujuan yang di cita-citakan.
  4. Dalam kerja tim dibutuhkan rasa saling percaya secara penuh. Rasa saling percaya akan mendorong adanya kinerja masing-masing tim secara maksimal.

DAFTAR RUJUKAN

1. Arcaro, Jerame S, Pendidikan Berbasis Mutu, ( Yogyakarta; Pustaka Pelajar,2007)

2. Bush,Tony & Marianne Colean, Leadership and Strategic Management In Education, (Yogyakarta:IRCi Sod,2006) III

3. Fatoni, Ahmad, Kepemimpinan Pendidikan Islam, (Tulungagung: STAIN,2008)

4. Mulyasa, Manajemen Berbasis Mutu, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya ,2004)

5. Purwanto, Ngalim, Administrasi dan Supervisi Kependidikan (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya,2003)

6. Sagala,Saiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer (Bandung: Alfabeta,2005)

7. Salis, Edward, Total Quality Management in Education (Yogyakarta:IRCiSod, 2006)

8. Wahjosumijo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2003)



Januari 20, 2009, 6:16 am
Filed under: Uncategorized

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

RAHASIA DI BALIK LUJJATI BAHRIL WAHDAH

Oleh : M. Fatoni

…. Kami bermohon kepada-Mu Yaa Alloh, dengan hak kemulyaan Beliau, tenggelamkanlah kami di dalam pusar dasar samudra ke-Esaan-Mu sedemikian rupa sehingga tiada kami melihat dan mendengar, tiada kami menemukan dan merasa dan tiada kami bergerak ataupun berdiam melainkan senantiasa merasa di dalam samudra Tauhid-Mu…..

Do’a sebagaimana diatas adalah salah satu do’a yang terdapat dalam sholawat ma’rifah dalam rangkaian sholawat wahidiyah yang di ta’lif Beliau Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’ruf Q.s. wa RA. Di dalam doa ini beliau mengajak kepada kita semua agar memohon untuk di tenggelamkan ke dalam samudra ketauhidan ( Lujjati Bahril Wahdah ) dengan berwasilah kepada Beliau Rosululloh SAW.

(lujjati bahril wahdah) adalah kondisi kesadaran seorang hamba yang tinggi yang di liputi oleh rasa ketauhidan kepada Alloh, seseorang yang ada dalam kondisi semacam ini akan betul-betul mencerminkan perilaku sebagai kholifah Alloh (Penggganti Alloh) di bumi. Ia akan bersikap dan bertindak sebagaimana yang tertuang di dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup ini.

Disamping itu, permohonan ini memiliki rahasia yang begitu luar biasa dalam kehidupan. Orang yang sudah di tenggelamkan oleh Alloh ke dalam lujjati bahril wahdah secara otomatis tidak akan memiliki rasa gelisah dalam jiwanya. Hatinya akan senantiasa memancarkan nur kesadaran karena setiap detik dan setiap saat ia selalu merasakan kehadiran Alloh bersama dengannya.

Hati yang tenang dan jauh dari rasa khawatir adalah kunci dari kesuksesan dan kesehatan. Orang yang hatinya tenang akan senantiasa berfikir dengan jernih tanpa di susupi oleh nafsu. Orang yang berfikir secara jernih secara otomatis akan menghasilkan sebuah keputusan yang brilian sehingga keputusan yang ia ambil sering kali benar dan tepat sasaran. Selain itu orang yang berhati tenang seringkali mudah menerima masukan orang lain dan sering kali menyelesaikan berbagai persoalan dengan keputusan yang menenangkan hati orang lain.

Dalam hal kesehatan, para ahli kedokteran telah melakukan penelitian yang menyatakan bahwa hampir 80% penyakit muncul dari hati yang tidak tenang / pikiran yang tidak tenang. Pikiran yang tidak tenang di sebabkan oleh hati yang senantiasa gelisah. Kegelisahan hati akan membuat seluruh jaringan saraf yang berpusat pada otak tidak dapat bekerja secara maksimal. Syaraf yang tidak normal akan berpengaruh pada gerak/kerja jantung dan paru-paru yang tidak normal dimana jantung adalah pusat dari peredaran darah yang sangat urgen dalam kesehatan manusia. Dengan demikian kondisi seseorang dalam keadaan tenang akan membuat seseorang bisa sehat dan jauh dari berbagai penyakit .

Bersambung…………………………!

Disampaikan dalam acara mujahadah pertemuan remaja, Minggu, 28 Desember 2008 di Tunjung – Udanawu – Blitar



MUJAHADAH KUBRO GELOMBANG TIGA UNTUK KRISIS PALESTINA ISRAEL
Januari 17, 2009, 6:21 pm
Filed under: Uncategorized

Malam ini adalah malam ket5iga dari rangkaian mujahadah kubro yang di selenggarakan oleh seluruh bpengamal shalawat wahidiyah di seluruh belahan dunia. Mujahadah ini disponsori oleh remaja wahidiyah. Mujahadah kubro kali ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari lahirnya shalawat wahidiyah.

Shalawat wahiriyah adalah shalawat yang dita’lif oleh beliau Mbah KH Abdoel Madjid Mairuf yang memiliki faedah untuk menjernihkan hati dan ma’rifat Billah. Mujahadah kali ini di ikuti oleh ribuan pengamal Shalawat Wahidiyah yang tumplek blek dari seluruh pengamal di nusantara bahkan manga negara. Mujahadah pada gelombang ketiga ini di mulai pada sekitar jam 20.00WIB dan berakhir pada sekitar jam 00.00 WIB dini hari.

Sebagaimana lazimnya agara mujahadah Kubro kali ini berlangsung khidmah dan penuh dengan penghayatan. Banyak diantara Mujahidin berlinang air mata karena munajat dan maohon kepada Allah agar di bukakan pintu hidayah baginya. Di samping itu mujahadah kali ini juga diadakan dalam rangka mendoakan kepada umat dan maoyarakat agar kembali sadar FAFIRRUU ILALLAH Wa RASULIHI SAW.

Para pengamal Shalawat Wahidiyah berdoa dan bermohon dengan penuh khidmat dengan linangasn air mata untuk kemerosotan global umat manusia khususnya dalam hal akhlak dan moralnya. Semakin banyak diantara umat manusia yang tidak lagi mengindahkan akan tuntunan yang diberikan Allah wa Rasulihi SAW. Semua itu trampak dari banyaknya tindak kriminal dan juga mewabahnya krisis akhlak, iman dan berbagai krisis multri di mensi yang ada. Semua itu terjadi karena ulah kaki dan tangan manusia.

Dalan m kesempatan ini, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah da n Pondok Pesantren Kedunglo Al Munadzdzaroh mengajak kepada unmat masyarakat khususnya para pengamal wahidiyyah ikut memperhatikam dan ikut prihatin atas apa yang baru – baru ini menimpas bangsa israel.

Menurut beliau ini semua terjadi juga karena kesalahan kita semua yang cenderung lupa akan tuntunana Allah dan Rasulullah SAW. Beliau menyetir sebuah kata hikmah yang artinya ” apabila telah nampak bi’ah/ kerusakan dimuka bumi dan orang yang tahu hanya diam, maka la’nat Allah akan di timpakan kepadanya.

Berbagai macam kemaksiyatan telah merajalela di sana sini namun jarang diantara umat manusia yang mau memberikan peringatan. Olehg sebab itu maka bangsa oalestina ikut terkena Adzab dari Allah yang sebenarnya itu adalah wujud adzab dari dosa – ndosa kita yang menumpuk namun Allah berkehendak agar bangsa palestina ikut merasakan adzab tersebut.

Di dalam Al Qur’an disebutkan ” Sungguh jikalau seandainya umat manusia mau beriman dan bertaqwa pasti akan Aku bukakan pintu barokah dari langit dan bumi”. Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa seandainya penduduk bumi mau beriman dan bertaqwa serta mematuhi segala aturan – aturan yang di tetapkan oleh Allah pasti bumi ini menjadi bumi yang barokah.

Dlam kkrisisPalestina Israel, Beliau mengajak kepada Umat islasm umumnya dsan khususnya pengamal Shalawat Wahidiyah Agar ikut mendoakan semoga bangsa palestina diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi gobaan ini. Beliau juga mendoakan semoga seluruh korban dari bangsa palestina di jadikan sebagai syahid dan khusnul Khatimah.

Selain itu beliau juga mengajak umat islam dan seluruh pengamal Wahidiyyah agar ikut mendoakan bangsa Israel semoga segera di beri pintu hidayah hatinya dan menghentikan serangan mereka ke Palestina. Ini menunjukkan kepribadian beliau yang agung sebagai pemimpin umat yang justru mendoakan musuhnya agar sadar kepada Allah SWT sebagaimana yang pernah dilakukan rasulullah sewaktu beliau berdakwah kepada bangsa thaif namun di sambut dengan lemparan batu dan gemoohan serta gagi makian. Akan tetapi Beliau tetap sabar bahkan mendoakan bangsa Thaif ” Allahumma ihdi Qaumii Fainnahum Laa Ya’lamuuma “, : ” Yaa Allah berikanlah petunjuk kepada unmatku sesungguhnya mereka tidak tahu”. Demikianlah Pribadi agung rasulullah SAW yang itu juga tercermin dalam pribadi Beliau Romo KH Abdoel Lathie Madjied pengasuh perjuabngan wahidiyah dan pondok pesantren kedunglo. Allahu Ailam.



MENENGOK ISLAM KITA
Januari 17, 2009, 6:00 am
Filed under: Uncategorized

Pada saat persaksian akan ketuhanan Allah dan kerasulan Muhammad SAW telah tertanam dalam diri seorang hamba, maka ia akan senantiasa selalu berada dalam pengawasannya. Kesadaran akan adanya pengawasan dari Allah dan Rasulnya ini akan menjadikan seseorang selalu akan mengikuti apa yang menjadi tuntunan dan ajarannya. Ia tidak akan pernah berani untuk melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang telah diberikan Allah kepadanya. Akan tetapi jika persaksian yang ia lakukan tidak merasuk dalam hati dan jiwanya, maka dengan sangat mudahnya ia akan melakukan pelanggaran terhadap apa yang Allah syari’atkan. Persaksian yang sungguh – sungguh keluar dari dalm hati dan perasaan yang mendalam akan membawanya pada alam real yang nyata. Maka itulah yang terjadi pada pribadi Rasul SAW, ” Akhlak rasulullah SAW itu adalalah Al- Qur’an”. Itulah yang tercermin dari pribadi agung rasulullah SAW.

Maka apabila seseorang yang telah betul – betul bersaksi akan kerasulan Muhammad SAW dan Allah sebagai Tuhannya, ia akan bwerusaha menerapkan Al Qur’an dalam setiap tingkah laku kesehariannya. Maka apabila seseorang mengaku sebagai orang islam tapi perilakunya masih jauh dari apa yang di tuntunkan apalagi menolak atau bertentangan dengan Al Qur’an, otomatis pengakuan itu adalah palsu belaka. Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk koreksi diri sudahkah kita menerapkan ajaran islam yang pertama yaitu syahadat dengan sungguh – sunguh atau syahadat kita hanya sebatas di bibir saja. Allahu A’lam!



MENENGOK ISLAM KITA
Januari 16, 2009, 7:27 am
Filed under: kajian

Kesaksian akan ketuhanan Allah harus menghapus segala bentuk kesaksian pada selain Allah. Kesaksian ini menuntut pada diri seorang hamba pada setiap aspek kehidupan baik secara lahir maupun batin. Satu misal, apabila kita bersaksi bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Agung/ Besar, maka secara otomatis apa yang selain Allah adalah kecil. Logikanya apabila ada sesuatu yang kecil berada di samping sesuatu yang besar maka ia tidak akan tampak. Apabila ternyata persaksian akan kebesaran dan keagungan Allah itu masih menyisakan wujud diri manusia, maka secara otomatis persaksian itu adalah palsu.

Kesaksian ini menuntut seseorang untuk senantiasa ingat kepada Allah dimanapun dan kapanpun adanya. Tidak peduli apakah itu dikeramaian atau di dalam keadaan sendiri.Apabila dalam keramaian atau dalam keadaan sendiri lupa atau tidak ingat akan Allah, maka persaksian itu adalah batal dan tidak memiliki arti sama sekali.

Selanjutnya persaksian akan kerasulan Nabi Muhammad SAW menuntut untuk senantiasa ingat dan terbayang selalu akan keagungan beliau. Suatu ketika beliau pernah ditanya tentang hakikat ikut pada beliau. Beliau menjawab bahwa ” Hakikat ikut adalah melihat yang diikuti ada pada setiap sesuatu, bersama segala sesuatu dan ada di dalam segala sesuatau”.

Pernyataan rasul diatas memberikan arti bahwa orang yang mengaku ikut pada beliau harus senantiasa merasa bahwa rasulullah saw adalah ashlul khilqah seluruh makhluk. Dalam sebuah Hadits qudsi di sebutkan bahwa  Allah SWT berfirman : ” Aku menciptakan Engkau (Muhammad) dari NURKU, dan Aku menciptakan semua makhluq dari NURMU”.

Dari hadits diatas menjadi jelaslah bagaimana hakikat mengikut pada pribadi beliau SAW. Maka teramat jauhlah bagi orang yang mengaku ikut pada beliau akan tetapi tidak pernah menyadari tentang hakikat ketaatan dan tabi’ atau iklut kepada beliau. Hal ini pula yang barangkali disidir Allah SWT dalam Al- Qur’an : ” Dan sebagian diantara umat manusia itu mengatakan bahwa mereka beriman Kepada Allah dan hari akhir padahal mereka itu bukanlah orang – orang yang beriman”.

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa sebagian umat ada yang mengaku beriman kepada ALLAH, Rasulnya dan Hari akhir padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang – orang yang beriman. Mereka tidak lebih dari orang – orang munafik yang senantiasa menebar kebohongan diantara umat. Mereka itu hanyalah orang – orang yang ingin mencari keuntungan akan diri mereka sendiri.Allahu A’lam




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.