Assamalu’alaikum WrWb


PENDIDIKAN ISLAM MELALUI SENI
Februari 3, 2009, 2:30 pm
Filed under: Uncategorized

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; mso-style-link:” Char Char”; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} span.CharChar {mso-style-name:” Char Char”; mso-style-noshow:yes; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Footnote Text”; font-family:Calibri; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:612.1pt 792.1pt; margin:3.0cm 3.0cm 4.0cm 3.0cm; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:623535869; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:885534168 -1790256604 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} @list l1 {mso-list-id:911893483; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1988448292 -2091995176 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1349331382; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1369505234 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1865173088; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:359408212 69271573 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

Hakikat proses pendidikan adalah terjadinya perubahan pada diri manusia dalam proses perkembangan menuju kesempurnaan.[1] Dalam UU Sisdiknas 2003 pendidikan diartikan sebagai usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.[2] Sedangkan menurut UU dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan tahun 2006, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[3]

Beberapa pengertian yang berkembang tentang pengertian pendidikan diatas, memberikan pemahaman bahwa Pendidikan merupakan sebuah usaha yang terncana dan sistematis dalam rangka berupaya untuk membentuk kedewasaan pribadi yang mandiri, tangguh dan siap untuk menghadapi segala bentuk tantangan di masa yang akan datang. Pendidikan pada hakikatnya merupakan kebutuhan setiap individu dalam mengembangkan dan mengarahkan kehidupannya di masa yang akan datang.

Sebagaimana diketahui, pendidikan formal jenjang TK sampai SMA di Indonesia telah menjadi bagian dalam kehidupan anak bangsa. Bahkan saat ini pendidikan di jenjang Taman Bermain seakan-kan sudah menjadi keharusan bagi keluarga mampu dalam merencanakan keberhasilan pendidiakn bagi anak mereka.[4] Kondisi semacam ini telah menjadi sebuah keyakinan bagi setiap keluarga. Situasi semacam ini memberikan peluang sekaligus tantangan dalam dunia pendidkan.

Pendidik/guru memiliki peran besar dalam membentuk karakter serta menentukan dalam proses belajar. Sistem dan metode belajar yang dipakai oleh pendidik/guru sangant menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Selain itu seorang guru ditntut untuk benar-benar menguasai kondisi diri murid. Oleh karena itu seorang guru harus paham tentang psikologi pendidikan yang menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental, yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yamg mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.[5]

Kemampuan pendidik dalam memahami kondisi psikologis peserta didik akan memberikan kemampuan pendidik untuk menumbuhkan minat belajar yang tinggi karena mampu membuat kondisi belajar menjadi sesuatu yang asyik dan menyenangkan. Kondisi ini akan membawa keberhasilan pada anak dalam belajar.

Salah satu dari hal yang biasanya menyenangkan bagi adalah seni. Seni cenderung disukai oleh anak didik, karena seni memberikan sesuatu yang unik dalam belajar. Oleh karenanya pendidik harus mempunyai seni yang dengan seni tersebut ia mampu mentransfer penegtahuan serta menanamkan nilai pada diri anak didik. Makalah ini akan membahas tentang seni yang di pakai dalam melakukan proses pendidikan pada anak.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pendidikan

Pendidikan merupakan kebutuhan setiap individu manusia. Dengan pendidikan manusia mampu menghadapi segala tantangan yang ada untuk mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Sercara Etimologi pendidikan dalam perspektif Islam diidentikkan dengan attarbiyah.[6] Istilah itu berasal dari tiga akar kata yaitu; 1) raba yarbu yang berarti beratambah dan tmbuh; 2) rabiya yarba yang berarti menjadi besar; 3) rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara.[7]

At Tarbiyah secara etimologi juga identik dengan kata rabbani. Dalam Al Qur,an 3: 79 dan 146 disebutkan kata rabbaniyah (bentuk jama’ deari kata rabbani) yang memiliki makna orang-orang yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW memebrikan makna pendidikan (At Tarbiyah) dengan istilah rabbaniyin dan rabbani seperti berikut.[8]

“Jadikanlah kamu para pendidik yang penyantun, ahli fiqih dan berilmu pengetahuan. Dan dikatakan pendidik “rabbani” apabila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan, dari sekecil-kecilnya sampai pada yang lebih tinggi”

Dari pemaparan diaatas kata al-rabbani diidentikkan dengan at-tarbiyah, yang berarti proses transformasi ilmu pengetahuan yang dilakukan secara bertahap. Proses tersebut dilakukan dengan proses pengenalan, hafalan dan ingatan yang belum menjangkau proses pemahaaman dan penalaran.

Sebaliknya bila, pengertian at tarbiyah disepadankan dengan rabbaniyin dan rabbaniyun sebagaimana dalam Al-Qur’an 3:79 dan 146 tersebut, maka makna at tarbiyah adalah proses transformasi ilmu penegtahuan dan sikap pada anak didik, yang memepunyai semangat tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya sehingga terwujud ketaqwaan, budi pekerti dan pribadi ayng luhur.[9]

Sedangakan secara terminologi at tarbiyah menurut Al-Ghalayani adalah upaya penanaman etika yang mulia pada jiwa anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasehat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompetensi-kompetensi jiwa yang mantab yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik, cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya.[10] Kata At tarbiyah yang mempunyai arti pendidikan diartikan dengan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, penegndalian diri, kepribadian yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. [11]

Apabila kedua pemahaman pendidikan diatas disinergikan maka pendidikan merupakan upaya yang dialkukan secara bertahap dan sistematis dalam rangka menanamkan nilai-niali luhur dalam diri peserta didik sehingga peserta didik memiliki sifat-sifat terpuji, memiliki kepribadian, kecerdasan, ketrampilan dan mampu mengendalikan dirinya sehingga menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negaranya.

B. Seni

Seni merupakan kegiatan manusia yang amat menyenangkan karena didalamnya terdapat kegiatan bermain dan bereksplorasi serta bereksperimentasi dengan menggunakan unsur seni untuk mencipta suatu hal baru bagi diri mereka.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia seni adalah: 1) keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dsb); 2) karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti tari, lukisan, ukiran. [12] Sedangkan dalam kamus ilmiah populer seni diartikan sebagai segala yang berkaitan dengan karya cipta yang dihasilkan oleh unsur rasa.[13] Seni merupakan ungkapan halus dari perasaan yang mendalam yang dilahirkan dalam sebuah karya cipta. Karya ini bisa berupa sebuah bahasa, gerak teaterikal, olah suara dan lain sebagainya. Dari pengertian diatas tampak bahwa seni merupakan eksplorasi dan implementasi dari rasa yang halus dan mendalam dalam diri manusia.

C. Arti Penting Seni Dalam Dunia Pendidikan

Sebagaimana telah di bahas diatas bahwa pendidikan memiliki beberapa pengertian sebagai yang telah disampaikan para pakar serta ahli di bidangnya. Secara garis besar pendidikan merupakan upaya yang dilakukan dalam rangka menanamkan niali-nilai luhur pada diri peserta didik sehingga pada saatnya nanti, peserta didik siap dan mampu membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif dari luar sekaligus mampu dalam mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul di dalam kehidupannya.

Salah satu upaya yang perlu diperhatikan dan menjadi sorotan adalah upaya transformasi ilmu dan penanaman nilai-nilai luhur dalam diri peserta didik. Upaya bukanlah sebuah hal yang mudah. Karena membutuhkan perhatian serius agar bisa tercapai secara maksimal. Salah satu cara dalam usaha transformasi ilmu dan nilai-nilai luhur itu adalah melalui media seni.

Meurut Cut Kamaril Wardani, seni memiliki sifat multidimensional, multilingual dan multikultural yang memuliki potensi dalam pengembangan kecerdasan manusia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan. [14]

Menurut V, Lowenfield sebagaimana dikutip oleh Cut Kamaril wardani, melalui sifat multidimensional yang dimiliki seni, pada dasarnya kemampuan dasar manusia yang meliputi fisik, perceptual intelektual, emosional, sosial, kreatifitas dan astetik dapat dikembangkan.[15] Dengan sifat seni yang multidimensional seorang akan mampu mengembangkan danmenggali potebsi yang berbeda dalam dirinya serta mampu mengungkapkannya dalam bentuk kreatifitas yang mengandung nilai-nilai estetik.

Sedangkan sifat multilingual yang dimiliki seni memungkinkan manusia mampu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi melalui beragam bahasa disamping bahasa verbal. Bahasa yang dimaksud disini adalah bahas bahasa untuk berekspresi dan berkomunikasi secara rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya.[16]

Seni merupakan bahasa, rasa citra atau image bagi manusia. Oleh karena itu seni dinyatakan sebagai cermin kehidupan atau cermin realita.[17] Cerminan ini akan tampak pada setiap laku dan pola interaksi yang tampak dalam realita kehidupanseseorang.

Sifat Multicultural seni dapat dijadikan dasar pemersatu bangsa dengan mengembangkan kemampuan manusia untuk saling menghargai akan adanya perbedaan. Pemahaman terhadap keanekaragaman budaya yang dimiliki merupakan sebuah landasan yang kuat dalam mempersatukan perbedaan menjadi kesatuan yang utuh. Akan ntetapi ketidakpahaman terhadap keanekaragaman yang dimiliki merupakan akar perpecahan dan permusuhan.

Dengan demikian seni dengan berbagai sifat yangdimiliki memiliki arti dan peran penting dalam pendidikan. Seni merupakan media dalam menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung misi pendidikan. Seni juga merupakan sarana yang tepat dalam rangka transformasi ilmu pengetahuan pada diri seorang murid.

D. Transformasi dan Internalisasi Pendidikan Melalui Seni

Pada kenyataannya pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia dapat kita kelompokkan menjadi 2 macam, yaitu Pendidikan Umum dan Pendidikan Agama. Di kotomi dalam pendidikan ini muncul sebagai sebuah akibat dari adanya kronologis sejarah Indonesia yang kala itu di jajah oleh Belanda. Warisan itu masih tetap berlaku sampai masa sekarang. Dalam pembahasan ini transformasi dan internalisasi pendidikan melalui seni lebih difokuskan pada pendidikan Islam.

Pendidikan Islam berbeda dengan Pendidikan Agama Islam. Muhaimin menyebutkan bahwa Pendidikan Agam Islam adalah pendidikan yang materinya hanya sebatas mengajarkan ajaran agama Islam saja. Sedangkan Pendidikan Islam adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan yang Islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok muslim yang di edialkan.[18] Jadi pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan ajaran-ajaran agama an sich saja, namun juga mengjarkan berbagai keilmuan dimana reori-teorinya berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al Haists.

Islam sebagai agama syarat dengan nilai-nilai serta norma-norma yang mengikat didalammya, Islam memiliki aturan tersendiri bagi umatnya yang apabila umat mau dan patuh melaksanakannya, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam upaya inilah seni diperlukan dalam proses transformasi ilmu serta nilai-nilai luhur Pendidikan Islam.

a. Transformasi dan internalisasi pendidkan melalui seni musik.

Sejarah jaman dahulu Islam telah mengenal musik. Selain digunakan untuk hiburan musik dalam Islam juga digunakan sebagai upaya transformasi keilmuan dan nilai-nilai luhur dalam Islam. Musik adalah keteraturan bunyi kata pada sebuah kalimat.[19] Musik yang terkait yang terdapat pada uslub ‘ilmi disebut dengan nadzam.

Para ulama’ tempo dulu menggunakan nadzam sebagai bentuk upaya transformasi ilmu sekaligus sebagai penanaman ilmu. Sebagai contoh adalah kitab Al-fiyah karangan Ibnu Malik yang memuat seribu bait nadzam. Diantara nadzam itu adalah:

Dalam bait diatas Imam Ibnu Malik memeberikan tentang kalam dalam pandangan nahwu. Beliau menggunakan media musik ini dalam rangka proses transformasi sekaligus internalisasi keilmuan didalamnya.

b. Transformasi dan Intenalisasi Pendidikan melalui seni bermain.

Sejauh kita memasuki dunia siswa, sejauh pula itu pula pengaruh yang kita miliki didalam kehidupan mereka. [20] Demikian kiranya gambaran pengaruh seorang guru pada siswa didiknya. Seorang pendidik dituntut untuk benar-benar men gtahui dan mampu menyelami peserta didiknya.

Permainan merupakan sebuah seni bagi nak-anak. Dunia anak cenderung untuk mengisi waktunya dengan bermain. Sebagai seorang pendidik, maka seorang guru harus tanggap akan kondisi ini. Seorang guru harus mampu mengubah permainan menjadi sebuah seni dalam transformasi dan internalisasi pendidikan pada anak. Kemampuan ini pula yang dimiliki oleh seorang wali kesohor yang menyebarkan Islam di tanah Jawa yakni Sunan Bonang.

Sunan Bonang adalah gambaran seorang pendidik yang mengerti betul pada siswa didiknya. Demi untuk menanamkan nilai-nilai luhur Islam ia ciptakan permainan yang mengandung filosofi tinggi berupa ketahui dan tinggi pada Sang Khaliq. “Jumpritan’ dalam istilah Jawa merupakan salah satu gambaran permainan ynag di ramu secara cerdas oleh wali ini.

Selain itu diantara diantara wali lainnya juga banyak yang menggunakan media seni dalam proses dakwahnya. Banyak sekali gending-gending Jawa dan lagu-lagu dolanan yang dikarang oleh para wali demi untuk menanamkan nilai-nilai luhur Islam yang terkandung dalam kitab suci AlQur-an . Hal ini menunjukkan akan kemampuan mereka yang tinggi dalam memahami peserta didik.

C. Transformasi dan Internalisasi pendidikan melalui Seni Suara

Transformasi dan Internalisasi pendidikan saat ini telah berkembang secara pesat. Perkembangan ini seiring dengan semakin meningkatnya kemampuan seorang dalam bidang intelektualnya. Wawasan yang luas dan didukung dengan keahlian mengolah suara telah menjadi sebuah media dalam proses transformasi serta intenalisasi nilai-nilai luhur pendidikan.

Diantara para tokoh seni tarik suara yang sering melakukan transformasi pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai luhur Islam adalah Rhoma Irama, Ida Laila, K.H. Ma’ruf Islammudin, Ebiet, dan sederetan tokoh lainnya yang tidak mungkin penulis sajikan satu persatu. Mereka adalah para tokoh yang menyebarkan dakwah Islam serta menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Al-Qur’an melalui seni suara. Ini adalah suatu kemampuan yang luar biasa yang perlu untuk dipertimbangkan dan ditindaklanjuti.

D.Transformasi dan Internalisasi Pendidikan melalui seni wayang kulit.

Wayang kulit merupakan kesenian yang telah melegenda bagi kalangan masyrakat Jawa. Kesenian wayang kulit pada awalnya merupakan kesenian wayang golek dan wayang beber yang karena dinilai bertentangan dengan Islam dimodifikasi menjadi wayang kulit.

Pencipta kesenian wayang kulit ini adalah seorang wali besar yangtermasuk dalam jajaran wali songo yaitu Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah seorang wali cerdik yang melakukan penyiaran Islam terhadap masyarakat Jawa dengan pendekatan budaya. Beliau menyadari betul sebagai karakteristik yang dimiliki oleh orang Jawa, sehingga dalam melakukan dakwah dan penananam nilai-niali keislaman beliau ciptakan sebuah kesenian yang sangat dikuasai masyarakat pada waktu itu.

Kesenian wayang kulit merupakan bentuk kesenian yang syarat dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Nama-nama tokoh yang ada didalamnya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga orang akan terkesima ketika melihat nilai-nilai serta pesan yang terkandung didalamnya. Sebut saja Jimat Kalimasada yang menggambarkan dua kalimat syahadat, Werkudara yang menggambarkan orang yang sedang shalat dan sebagainya. Ini merupakan sebuah terobosan luar biasa yang telah di upayakan oleh Sunan Kalijaga dalam proses transformasi dan internalisasi pendidika di Indonesia khususnya masyrakat Jawa.


BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian makalah diatas dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya:

1. Pendidkan adalah upaya yang dialkukan secara sadar, dan sistematis dalam rangka penanaman niali-niali luhur dalam diri peserta didik serta menumbuh kembangkan segala potensi yang dimiliki agar menjadi manusia yang bijak, memliki kepribadian, kecerdasan, kreatifitas dan keahlian yang diperlukan oleh masyrakat, bangsa dan negara.

2. Seni adalah ungkapan halus dari perasaan yang mendalam yang dilahirkan dalam sebuah karya cipta.

3. Seni memiliki arti penting bagi pendidikan sebagai media trnsformasi sekaligus internalisasi nilai-nilai pendidikan pada diri peserta didik. Seni dengan segala sifat yang dimilikinya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia yang meliputi fisik, penceptual intelektual, emosional, sosial, kreatifitas dan astetik.

4. Transformasi dan internalisasi pendidikan melalui seni dapat dilakukan, misalnya dengan melalui media seni musik, seni bermain, seni suara, seni wayang kulit dan sebagainya. Berbagai macam seni akan membuat sebuah proses transformasi dan iternalisasi nilai lebih menyentuh dan bisa di tangkap dan di terima dengan baik dan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, Teknologi Pendidkan , (Malang; FIP IKIP Malang, 1985), 2

UU No 20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Arms Duta Jaya,

2003)

UU dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan , (Jakarta: Depag RI, 2006), 5

Cat Kamaril Wardani, Pendidikan melalui Seni dalam Pendekatan Terpadu, dalam

Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidkan,

(Jakarta, Kencana, 2004), 379

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung; Rosdakarya, 1996), 9

As’aril Muhajir, Diktat Ilmu Jiwa Belajar, (Tulungagung, STAIN, 2001), 9

Abd. Al Rahman al-Nahlawi; Prinsip-prinsip dan metode Pendidikan Islam, Herry

Noer Ali (Bandung, CV. Diponegoro,1989), 30-31

Muhammad Muhsin Klāń ,Shahih Bukhari, vol 1 (Islamic Universitu, t.p.t.t), 59

Mustafa-al Ghalayani, Izah-al. Nashi’in (Beirut: Al-Maktabah al-asriyah,tt,), 185

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta, balai Pustaka

2005) 1037

Pius A Partanto dan Dahlan Al-Borry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya

: Aslaka,tt,), 70

Cut Kamaril Wardani, Asah Kepekaan Dengan Seni Terpadu, dalam Republika

, Minggu 11 Juni 2006

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, Raja Grafindo, 2005), 6

‘ilmu Al Badii’, (Ma’had ‘Ashri Gontor,tt.), 1

Bebby Der Porter dkk, Quantum Theaching (Bandung, kaifa, 2003), 24


[1] Ibrahim, Teknologi Pendidkan , (Malang; FIP IKIP Malang, 1985), 2

[2] UU No 20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Arms Duta Jaya, 2003)

[3] UU dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan , (Jakarta: Depag RI, 2006), 5

[4] Cat Kamaril Wardani, Pendidikan melalui Seni dalam Pendekatan Terpadu, dalam Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidkan, (Jakarta, Kencana, 2004), 379

[5] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung; Rosdakarya, 1996), 9

[6] As’aril Muhajir, Diktat Ilmu Jiwa Belajar, (Tulungagung, STAIN, 2001), 9

[7] Abd. Al Rahman al-Nahlawi; slamPrinsip-prinsip dan metode Pendidikan I, Herry Noer Ali (Bandung, CV. Diponegoro,1989), 30-31

[8] Muhammad Muhsin Klāń , shahih Bukhari, vol 1 (Islamic Universitu, t.p.t.t), 59

[9] ——–, Ilmu Jiwa Belajar (bahasa), 11

[10] Mustafa-al Ghalayani, Izah-al. Nashi’in (Beirut: Al-Maktabah al-asriyah,tt,), 185

[11] ——–, UU dan Peraturan Pemerintah RI, 5

[12] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta, balai Pustaka 2005) 1037

[13] Pius A Partanto dan Dahlan Al-Borry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya : Aslaka,tt,), 70

[14] Cut Kamaril Wardani, asah Kepekaan dengan seni terpadu, dalam Republika, Minggu 11 Juni 2006

[15] Ibid

[16] ibid

[17] ibid

[18] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, Raja Grafindo, 2005), 6

[19]ilmu Al Badii’, (Ma’had ‘Ashri Gontor,tt.), 1

[20] Bebby Der Porter dkk, Quantum Teaching, (Bandung, kaifa, 2003), 24


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: