Assamalu’alaikum WrWb


IBNU MASKAWAIH DAN IBNU THUFAIL


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:2.0cm; mso-footer-margin:48.2pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:256444128; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1739144118 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:721490421; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:239611204 67698713 202686128 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1379547286; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1507958138 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:66.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:66.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:102.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:102.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level4 {mso-level-tab-stop:174.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:174.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1487820636; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:778236104 -40892484 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:66.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:66.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4 {mso-list-id:1676419346; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-846929210 67698713 67698711 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PENDAHULUAN

Islam bukanlah agama yang anti terhadap ilmu pengetahuan. Islam bahkan merupakan agama yang sangat menganjurkan untuk menggali dan mengadakan penelitian guna menemukan sebuah pengetahuan. Hal ini bukanlah sebuah pernyataan apologis untuk menampik beberapa pendapat segelintir orang bahwa Islam adalah agama yang anti terhadap ilmu pengetahuan. Ini terbukti dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyuruh umatnya untuk meneliti dan mengkaji tentang alam, sebagaimana ayat Al-Qur’an yang artinya:

“….Dan berjalanlah kamu sekalian di muka bumi, lalu perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…… ”

Dalam sejarahnya, Islam pernah melahirkan para ilmuwan-ilmuwan kaliber dunia bahkan menjadi kiblat para ilmuwan-ilmuwan di dunia. Sebut saja Al-Ghazali, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusdy, Al-Razi, Al-Bajjah, dan sebagainya. Mereka adalah ilmuwan-ilmuwan besar di dunia yang lahir dalam asuhan Islam.

Di antara para ilmuwan-ilmuwan besar itu munculah nama Ibnu Thufail dan Ibnu Maskawih Ibnu Thufail terkenal dengan filosof muslim yang gemar manuangkan pemikiran kefilsafatnya melalui kisah-kisah yang ajaib dan penuh dengan kebenaran.[1] Sedang Ibnu Maskawih adalah seorang bendahara pada masa kekuasaan Adhuhd Ad-Daulah dari Bani Buwaihi yang karena perhatiannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan kemudian muncul sebagai seorang filosof, tabib ilmuwan dan pujangga.[2]

Makalah ini akan mencoba untuk merajut benang-benang berserakan dari Ibnu Thufail dan Ibnu Maskawih tentang filsafat serta pemikirannya. Oleh karena minimnya literatur penulis kiranya banyak hal yang mungkin perlu di sampaikan kepada penulis demi kesempurnaan makalah ini.

IBNU MASKAWIH

A. Riwayat Hidup Dan Karyanya

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad Bin Muhammad Bin Ya’kub bin Maskawih. Ada yang menyebut tokoh ini “Maskawih” saja, tanpa “Ibnu”, karena belum dapat dipastikan apakah Maskawih itu namanya sendiri atau putra (ibnu) Maskawih.[3] Ia dilahirkan di kota Rayyhan pada tahun 330 H/941 M dan wafat di Asfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/16 Februari 1030 M.[4]

Tidak ada literatur yang dengan jelas mengungkap tentang biografinya secara terperinci. Namun ada beberapa hal yang perlu dijelaskan bahwa Ibnu Maskawih belajar sejarah terutama Tarikh Al-Thabari kepada Abu Bakar Ibnu Kamil Al-Qadhi dan belajar filsafat pada Ibnu Al-Khammar Musafil kenamaan karya-karya Aristoteles.[5]

Ia adalah penganut syiah. Ini bisa dilihat atas pengabdiannya kepada Sultan dan wazir-wazir Syiah dalam kepemerintahan Bani Buwaihi (320-448H). Pada masa Sultan Ahmad, Adhud Al- Daulah ia diangkat sebagai Khazin, penjaga perpustakaan yang besar dan bendahara Negara.

Disiplin ilmunya meliputi kedokteran, bahasa, sejarah dan filsafat. Akan tetapi, ia lebih populer sebagai seorang filosof akhlak (al-Falsafat, al-amaliyat) ketimbang filosof ketuhanan (al-falsafat An-Nadzariyat al-Ilahiyat).[6] Barangkali ini disebabkan pada masyarakat sangat kacau seperti meminum Khamr, Zina dan lain-lain.

Pada masa hidupnya Ibnu Maskawih telah menulis beberapa buku di antaranya:

a. Al-fauz al- Akbar

b. Al-fauz al-Asghar

c. Tajarib Al-Umam (sejarah tentang banjir besar yang ditulis tahun 369H/979M.

d. Uns al-Farid (koleksi anekdot ,syair, peribahasa, dan kata-kata hikmah)

e. Tartib As-Sa’adat (isinya akhlak dan politik)

f. Al-Mustafa (syair-syair pilihan)

g. Jawidhan Khirad (koleksi ungkapan bijak)

h. Al-Jami’

i. Al-siyab

j. On the simple Drugs (tentang kedokteran)

k. On the compesition of the Bajats (seni memasak)

l. Dan lain-lain.

B. Filsafatnya

1. Ketuhanan

Tuhan menurut Ibnu Maskawih, adalah zat yang tidak berjisim, azali dan pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satupun yang setara dengan-Nya.[7]

Menurut Maskawih Tuhan dapat diketahui dengan cara meniadakan (negasi), bukan dengan afirmasi artinya Tuhan bisa diketahui dengan propogasi negative dan tidak dapat di kenal dengan sebaliknya, propogasi positif (yu’raf bil salb dan al ijab). Karena kalau ijab menyamakan Tuhan dengan Makhluk.

Untuk membuktikan adanya Tuhan argumen yang paling di tonjolkan Maskawih adanya gerak.[8] Argumen ini diambil dari Aristoteles. Tuhan adalah sebagai pencipta segala sesuatu. Ia pencipta dari yang tidak ada menjadi ada, sebab tidak ada artinya mencipta jika yang diciptakan telah ada sebelumnya.

2. Emanasi

Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Maskawih juga menganut paham emanasi, yakni Allah menciptakan alam secara pancaran.[9] Akan tetapi ia memiliki pandangan yang berbeda dalam hal emanasi ini. Menurutnya entitas pertama yang memancar di Allah ialah aql fa’al (akal aktif). Akal aktif ini tanpa perantara sesuatupun. Ia Qadim sempurna dan tak berubah. Dari akal ini timbullah jiwa dan dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet (al-falak). Pemancaran terus-menerus dari Allah dapat memelihara tatanan di alam ini, andaikan Allah menahan pancaran-Nya, maka kemaujudan dalam alam ini terhenti.

3. Kenabian

Menurut Maskawaih, nabi adalah seorang muslim yang memperoleh hakekat-hakekat atau kebenaran karena pengaruh akal aktif atas daya imajinasinya.[10] Ia mengatakan filusufpun juga memperoleh kebenaran yang sama. Bedanya filusuf mendapatkannya dengan daya inderawi menaik ke kayal dan berhubungan dengan akal aktif. Sedang nabi dari atas ke bawah.

4. Jiwa

Jiwa menurut Maskawaih adalah jauhar ruhani yang tidak hancur dengan sebab kematian.[11] Ia adalah kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Ia akan hidup selalu. Ia tidak dapat diraba dengan indera, karena ini bukan jisim dan bagian jisim.

Tentang balasan di akhirat sebagaimana al-Farabi ia mengatakan, jiwalah yang akan menerima balasan di akhirat karena kelezatan jasmaniah bukanlah kelezatan yang sebenarnya.[12]

5. Akhlak

Ibnu Maskawaih adalah seorang moralis terkenal. Hampir setiap pembahasan akhlak dalam Islam, filsafatnya selalu mendapat perhatian utama.

Akhlak menurutnya adalah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur kebiasaan dan latihan.[13]

IBNU THUFAIL

A. Riwayat Hidup dan Karyanya

Ia adalah Abu Bakar Muhamad bin Abdul Malik bintu Fail, dilahirkan di Wadi, Asy dekat Granada pada tahun 506 H/1110 M.[14] Disiplin ilmunya meliputi kedokteran, kesusastraan, matematika dan filsafat. Ia menjadi dokter di kota tersebut dan barangkali menjadi penulis penguasa negerinya hingga menjadi dokter pribadi Abu Ya’qub Yusuf Al-Mansur, khalifah kedua dari daulah Muwahiddin.

Karyanya sedikit yang dikenal orang, karyanya yang terpopuler dan masih dapat ditemukan sampai sekarang adalah Hayy Ibnu Yaqdan (Roman Philosophique) yang judul lengkapnya Risalah Ibnu Yaqdan Fi Asrori Al-Hikmat Al Masriqiyat.

B. Falsafah Hidup Hayy Ibnu Yaqdan

Dalam filsafah ini menggunakan kisah filsafat yang terkenal dengan kisah Hayy Ibnu Yaqdan, secara ringkas cerita tersebut adalah sebagai berikut:

Seorang anak tinggal sendirian di pulau, yaitu Hayy Ibnu Yaqdan. Disusui dan diasuh oleh seekor rusa. Ketika ia sudah besar, ia mempunyai hasrat yang besar untuk mengetahui dan menyelidiki tentang sesuatu yang tidak dapat dimengerti olehnya. Ia menyadari bahwa hewan-hewan mempunyai pakaian alami dan alat pertahanan bagi dirinya. Sedang ia sendiri telanjang dan tidak bersenjata. Oleh karena itu ia menutup dirinya pertama-tama dengan kulit hewan yang telah mati, serta memakai tongkat sebagai alat pertahanan diri. Lambat laun ia mengenal kebutuhan-kebutuhan hidup yang lain, mengetahui cara memakai api, manfaat bulu, tahu menenun dan akhirnya membangun gubuk sebagai tempat berteduhnya.

Dalam pada itu rusa pengasuhnya semakin lama semakin tua dan lemah, kemudian mati. Pikiran manusia yang serba hendak tahu ingin mengetahui sebab terjadinya perubahan besar pada rusa itu. Untuk itu ia membedah salah satu tubuh hewan tersebut, dan dengan cermatnya ia menyelidiki bagian-bagian tubuhnya. Kemudian ia berkesimpulan bahwa jantung merupakan pusat bagi anggota-anggota tubuh.

Sesudah itu, ia mempelajari bahan-bahan logam, tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang terdapat di pulau kediamannya, mempelajari suaranya yang bermacam-macam dan menirunya pula. Kemudian ia memperhatikan gejala-gejala di angkasa, dan karena tertarik oleh keanekaragaman yang terdapat pada alam, maka ia berusaha untuk menemukan keseragaman pada kesemuanya.

Akhirnya, ia memastikan bahwa dibalik keanekaragaman tentu ada keseragaman (kesatuan) dan kekuatan yang tersembunyi dan yang ganjil, suci dan tidak terlihat. Ia menyebutnya “sebab pertama” atau “pencipta dunia”. Kemudian ia merenunkan dirinya sendiri. Akhirnya ia menemukan unsur-unsur pertama atau substansi pertama, susunannya, benda, bentuk, dan akhirnya jiwa dan keabadiannya.

Dengan memperhatikan aliran air dan menyusuri sumbernya sampai kepada suatu sumber air yang memancar dan melimpah sebagai sungai, maka ia terbimbing untuk mengatakan bahwa manusia juga mempunyai suatu sumber pertama.

Selanjutnya Hayy Ibnu Yaqdan merenungkan tentang langit, gerakan bintang-bintang, peredaran bulan dan pengaruhnya atas bumi. Ia kemudian menentukan garis pemikirannya sendiri, dan menjauhi pembunuhan hewan-hewan kemudian ia sudah puas makan buah-buahan yang masak dan tumbuh-tumbuhan dan hanya dalam keadaan terpaksa saja ia memakan daging hewan.

Dari sini ia beralih dari sekedar pengamat terhadap alam menjadi seorang yang mencari Tuhan, dan sebagai ganti mencari pengetahuan dengan melalui dalil-dalil dan kesimpulan-kesimpulan logika, atau dengan perkataan lain, pengetahuan obyektif, kemudian ia tenggelam dalam perenungan rohani. Ia memandang keseluruhan alam semesta sebagai pantulan (refleksi) dari satu Tuhan, dan selanjutnya ia senang melakukan ekstasi (bersemedi).

Di dekat pulau yang didiaminya itu, terdapatlah suatu pulau lain dan seorang pandai bernama Absar yang secara kebetulan berkunjung ke pulau tempat kediaman Hayy. Ia bertemu dengan Hayy dan mengajarkan bahasa terhadapnya.

Ketika kedua orang tersebut memperbandingkan pikirannya masing-masing, dimana yang satunya murid dari alam, sedang yang lain adalah seorang filosof dan pemeluk agama, maka taulah keduanya bahwa dirinya telah mencapai kesimpulan yang sama.

1. Metafisika

Dari hasil pengamatan dan pemikirannya tentang alam semesta serta pengalaman hidupnya, Hay sampai pada suatu kepastian bahwa alam ini diciptakan Allah. Dengan akalnya ia telah mengetahui adanya Allah. Dalam membuktikan adanya Allah Ibnu Thufail mengemukakan tiga argumen:

a. Argumen gerak (al-Harakah)

Corak alam membuktikan adanya Allah baik bagi orang yang yakin alam baru maupun bagi orang yang menyakini alam qadim.

Bagi orang yang meyakini alam baru (hadits), alam sebelumnya tidak ada, kemudian menjadi ada. Untuk menjadi ada mustahil ia ada dengan sendirinya. Oleh karenanya ia pasti diciptakan dan penciptanya inilah yang menggerakkannya yang kemudian disebut Allah. Sedang bagi yang mengatakan alam ini qadim, alam ini tidak didahului oleh diam, gerak alam tidak berawal dan tidak berakhir. Karena zaman tidak mendahuluinya, arti kata gerak tidak didahului oleh diam. Adanya gerak ini menunjukkan secara pasti adanya penggerak (Allah)[15].

b. Argumen materi (Al-Madat) dan bentuk (Al-Sirat)

Argumen ini didasarkan pada ilmu fisika dan masih ada kaitannya dengan dalil yang pertama (al-harakat). Ibnu Thufail dalam kumpulan pemikirannya menyatakan:

a) Segala yang ada ini tersusun di materi dan bentuk

b) Setiap materi membutuhkan bentuk

c) Bentuk tidak mungkin bereksistensi penggerak

d) Segala yang ada (maujud) untuk bereksistensi membutuhkan pencipta.

Bagi orang yang meyakini alam ini qadim, Pencipta berfungsi mengeksistensikan wujud di satu bentuk pada bentuk yang lain. Sementara bagi yang meyakini alam baru, Pencipta berfungsi menciptakan alam dari tidak ada menjadi ada.

c. Argumen Al-Ghaiyyat dan Al-Inayat al-Ilahiyyat.

Ibnu Thufail menolak bahwa alam ini diciptakan secara kebetulan. Karena pencipta semacam itu bukanlah pencipta yang Maha Bijaksana. Sedang alam tersusun dengan begitu rapinya. Tidak ada satupun ciptaan yang pertama. Oleh karenanya gambaran tersebut adalah bukti bahwa terciptanya kerapian alam ini berdasarkan rahman dan rahim Allah.

2. Fisika

Menurut Ibnu Thufail alam ini qadim dan juga baharu. Alam qadim karena Allah menciptakannya sejak zaman azali, tanpa didahului oleh zaman (taqaddum zamany). Di lihat dari esensinya, alam adalah baharu karena terwujudnya alam (ma’lul) bergantung pada illat (Allah).

3. Jiwa

Jiwa menurut Ibnu Thufail adalah makhluk yang tinggi martabatnya. Jiwa bukan jisim dan bukan pula suatu daya yang ada dalam jisim. Setelah badan hancur dan mati, jiwa lepas di badan, dan selanjutnya jiwa akan hidup kekal.

Mengenai keabadian jiwa dan hubungannya dengan Allah ia mengelompokkan jiwa dalam 3 keadaan:

a. Jiwa yang sebelum kematian jasad telah mengenal, mengagumi kebenaran dan keagungan-Nya dan selalu ingat kepada-Nya, maka jiwa ini akan bakal dalam kebahagiaan.

b. Jiwa yang telah mengenal Allah, tetapi melakukan maksiat dan melupakan Allah, jiwa seperti ini akan abadi dalam kesengsaraan.

c. Jiwa yang tidak pernah mengenal Allah selama hidupnya, jiwa ini akan berakhir seperti hewan.

4. Epistemologi

Ma’rifat dimulai dari panca indera. Dengan pengamatan dan pengalaman diperoleh pengetahuan inderawi. Hal yang bersifat metafisis dapat diketahui dengan akal intuisi. Ma’rifat bisa dilakukan dengan dua cara: pemikiran dan renungan akal, seperti yang dilakukan para filusuf Muslim dan Kasyuf Ruhani (Tasawuf) yang biasa dilakukan oleh kaum sufi. Kasf ruhani merupakan ekstase yang tidak dilukiskan dengan kata-kata sebab kata-kata hanya merupakan symbol yang terbatas pada pengamatan inderawi.

5. Rekonsiliasi (tawfiq) antara filsafat dan Agama

Melalui roman Hayy Ibnu Yaqdan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan. Hayy yang bebas dari pengaruh ajaran nabi, dapat sampai ke tingkat tertingi dan Ma’rifat terhadap Allah melalui akalnya dan kasyf ruhani yang ia peroleh dengan jalan latihan ruhani.

KESIMPULAN

1. Tuhan menurut Ibnu Maskawaih adalah Dzat yang tidak berjisim, azali dan pencipta Tuhan Esa dalam segala aspek.

2. Dalam emanasinya Ibnu Maskawaih menyatakan bahwa entitas pertama yang memancar dari Tuhan adalah akal fa’al yang menyebabkan munculnya jiwa yang menjadi perantara adanya planet.

3. Nabi menurut Ibnu Maskawaih adalah seorang muslim yang mendapat hakikat-hakikat kebenaran dari akal aktif atas daya imajinasinya.

4. Jiwa menurut Ibnu Maskawaih adalah jauhar ruhani yang tidak bisa hancur dengan sebab kematian.

5. Akhlaq menurut Ibnu Maskawaih adalah sikap mental yang mendorong orang berbuat tanpa berfikir dan pertimbangan.

6. Keberadaan Tuhan menurut Ibnu Thufail bisa dibuktikan dengan tiga argument yakni argumen gerak, materi (madat) dan bentuk (Al-Shirah) dan Al-Ghaiyyat wal Majat al-Illahiyyat.

7. Dalam pandangan fisikanya, alam ini adalah qadim sekaligus baharu.

8. Jiwa menurut Ibnu Thufail bukanlah jisim, bukan pula daya yang ada dalam jisim. Ia akan kekal setelah badan hancur dan mati.

9. Dalam epistemologinya, ma’rifat bisa dilakukan dengan dua cara, perenungan dan pemikiran akal, dan kasf ruhani.

10. Rekonsiliasi agama dan akal dimunculkan Ibnu Thufail melalui gambaran di roman Hayy Ibnu Yaqdan. Ia menyatakan bahwa antara akal dan agama (wahyu) tidak saling bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA

Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoevoe, 2003.

M. Yusuf Musa, Falsafat al-Akhlaq fi al-Islam, Kairo: Dar al-A’arif, 1945.

M.M. Syarif, The History of Muslim Philosophy, New York: Dever Publication, 1967.

Sirajjudin Zar, Filsafat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1986.

Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

Al-Iraqi Al-Mitafizqa, h. 128, sebagaimana dikutip Saefudin Zar.


[1] Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 80.

[2] Ibid., h. 88

[3] Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoevoe, 2003), h. 162.

[4] M. Yusuf Musa, Falsafat al-Akhlaq fi al-Islam, (Kairo: Dar al-A’arif, 1945), h. 71. sebagaimana dikutip Sirajjudin Zar dalam Filsafat Islam, h. 127.

[5] M.M. Syarif, The History of Muslim Philosophy, (New York: Dever Publication, 1967), h. 469.

6 Sirajjudin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 128.

[7] Ibid., h. 129.

[8] Sudarsono, Filsafat….., h. 91.

[9] Sirajjudin Zar, Filsafat …., h. 131.

[10] Ibid., h. 132.

[11] Ibid., h. 133.

[12] Yusuf Musa, Falsafat……, h. 70, sebagaimana dikutip Zar.

[13] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 61.

[14] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 161.

[15] Al-Iraqi Al-Mitafizqa, h. 128, sebagaimana dikutip Saefudin Zar.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: